RAHASIA KAYU

            Aku akan ceriterakan padamu sebuah rahasia yang tersimpan rapi berpuluh tahun dalam diriku yang belum pernah terkuak oleh seorang pun. Aku telah dilupakan oleh para penghuniku terdahulu, namun masih tersimpan apik semua kenangan baik atau yang buruk tentangku sejak aku mulai dibangun oleh kakek. Kakek tua renta yang sekarang telah menjadi salah seorang penghuni diriku ini. Berbagai rahasia tertimbun dalam sela sela tubuhku dan menjamur menjadi tragedy yang tidak akan pernah bias aku lupakan. Rahasia yang membuatku hidup dan dapat menceritakan semua ini, erangan kota megapolitan tidak membuatku gentar dengan banyaknya polusi dengan debu debu hitam di segala penjuru yang membuatku hanya terbatuk batuk kecil olehnya. Berpuluh tumbuhan perdu tumbuh dengan sendirinya di halamanku, membuatku nyaman dan betah untuk tidak pindah ke tempat lain dan tidak mungkin pula aku dapat pindah ke tempat lain, namun aku sudah bersyukur karena dapat hidup di tempat ini dan sudah banyak pengalaman dengan para penghuniku. Aku hidup di berbagai peristiwa, dan semua peristiwa itu tetap trekam apik di benakku.

            Dendam, tangis dan sepi adalah sahabat yang slalu menemaniku. Menciptakan roh roh hidup di sela lorong lorong ku yang membuatku serasa di gelitiki ketika mereka berlarian, namun di samping sikap mereka yang semula menggangguku, aku amat berterima kasih karena mereka semua yang menemaniku selama hidupku. Si pocong pincang yang dulu mati di jalan gang depanku adalah penghuni lamaku. Ingatkah tentang kakek tua yang dulu membangunku. Ya itulah dia, bersama teman temannya yang juga tak kalah seram juga sering mengadakan pesta di tempatku.aku sebagai saksi yang kini tak bias membisu lagi karena telah terusik dengan kedatangan manusia aneh yang mulai mencari tubuhku yang tlah using untuk diganti yang baru. Manusia tak pernah menghargaiku, mereka hanya membutuhkanku di saat mereka butuh saja dan menelantarkanku ketika mereka bosan.

            Ya beginilah aku, rumah tua berbalutkan kayu akasia dan jati sebagai furniturnya telah using termakan oleh zaman, namun teman temanku tidak akan terima dengan cara manusia aneh dan sombong itu yang akan mengusikku dan akan mengganggu mereka pula tentunya. Setiap malam si Kunthi selalu menangis tersedu hingga si kecil tuyul tak pernah bias tidur. Untungnya bapak selalu bias mengfatasi semua. Bapak adalah sebutan untuk paman gendruwo, begitu aku menyebutnya. Dia adalah penghuni kedua setelah pembangun rumahku ini tinggal di sini. Telah banyak para manusia yang mampir ke dalam diriku yang sepi ini untuk berbuat tak senonoh apalagi tempatku ini memang tergolong strategis karena tidak begitu jauh dengan keramaian kota yang tak pernah sepi. Bunyi dencitan kasur telah nyaring di telingaku yang tak pernah berhenti mendengarkan segala kesepian di balik keramaian kota Jakarta yang megah.

            Inilah hidupku yang selalu sepi dan hanya ditemani manusia tidak berbudi dan mereka semua mati di tangan teman temanku sendri karena kesalahan mereka. Aku pun selamat dari gusuran manusia aneh yang sombong karena bantuan teman temanku yang tercinta. Mungkin hanya ini yang dapat aku ceritakan sebagai saksi bisu yang mulai merangkak bicara. Kayu using yang tak dihargai dan di pandang sebelah mata inilah semuanya bermula dan akan berakhir. Tak tahu sampai kapan aku bertahan oleh zaman yang mulai edan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s