JOGJAJAKARTA

Matanya pun mulai terbuka perlahan, sedikit lengket oleh cairan entah apapun itu namanya. Seberkas cahaya menyilaukan membuatnya berkedip kecil menyesuaikan lubang pupil mata barunya. Mata biru itu benar benar menampakkan kejujuran dan ketabahan dari seorang makhluk kecil berbobot 3kg dalam ukuran massa. Kulitnya yang masih keriput dan berwarna putih bersih bak susu kuda Sumbawa yang terkenal itu. Bayi kecil bernama Jefe itu telah ditentukan takdirnya. Perlahan terdengar suara dentingan kaleng kecil di luar pagar rumah yang mungkin berasal dari kaleng kosong yang tertiup angin atau mungkin anak anak kecil yang sedang bermain perang perangan di tanah lapang samping rumah.
Dua ekor burung yang berwarna kuning serta berukuran tubuh mungil sesekali bertengger dan mencicit di dahan daun yang aku rasa pohon ketapang tanpa daun karena sudah meranggas. Keduanya bernyanyi bergantian layaknya simponi apik yang pertama kali di dengar oleh bayi Jefe. Senyumnya yang menggemaskan membuat siapapun akan terpesona. Senyum tanpa gigi yang masih polos dan ikhlas itu berikan sebuah kenyamanan. Suara air mengalir dari akuarium berukuran tak lebih besar dari TV 14 inci membuat Jefe menoleh ke arahnya. Air yang mengalir itu menghidupi dua ekor ikan mas berwarna kuning yang sedang menikmati hijaunya rumput laut buatan dan bebatuan kehijauan yang dipasang ayah Jefe sebelum dirinya dilahirkan di Jogja. Sayang, airnya sedikit kurang jernih hingga kotoran ikan ikan itu pun berada di dasar akuarium kaca namun tak terlihat oleh si kecil.
Di samping tempat tidur yang sekaligus tempat pipis Jefe, terdapat sebuah vas kecil dan sebuah bunga berwarna merah muda, tepatnya tiga buah mawar cantik yang setiap tangkai terdapat dua daun, menghiasi vas kaca transparan semi biru, berada di atas meja kecil beralaskan taplak warna merah bunga yang membuatnya semakin cocok dan menawan, tak lupa di dalamnya terdapat air yang terkesan dingin menmbah segar untuk bunga yang satu ini. Dari kejauhan, Bunda sedang menyirami tanaman di taman kecilnya yang terletak di depan rumah. Dengan selang biru kesayangannya, Bunda menyemprotkan air dari dalam selang dengan memperkecil area di ujung selang sehingga dihasilkan pancaran yang lebih jauh. Seekor kupu kupu terbang indah dengan sayap kecoklatan dengan belalai kecil di kepalanya seolah melambai, serta kaki kaki kecil yang siap merayap apabila mendarat, hewan nan lucu itu hinggap di daun dan mendadak terbang agar tidak terkena siraman air dari selang milik Bunda yang bisa membuat sayapnya basah bahkan bisa membunuhnya. Hewan kecil itu pun terbang masuk melalui jendela kayu di sebelah barat yang terbuka, tepatnya hewan itu terbang melalui atas ranjang Jefe untuk hinggap menghisap nectar di bunga mawar yang masih segar dipetik Bunda pagi ini.
Pagi ini Jefe sudah wangi dengan baby oil, belum genap lima belas menit yang lalu sebelum Bunda menyiram tanaman, ia sudah membersihkan badan Jefe, mengganti popok basah karena pipisnya semalam, dan memberi si kecil baby oil agar tetap hangat. Kupu kecil yang tadinya hinggap di bunga merah muda sedikit terperosok jatuh kakinya, namun dengan kaki kecilnya ia dapat kembali mnghisap nectar dari bunga lainya namun masih satu vas yang dipetik dari taman depan rumah. Puas dengan hisapannya yang terakhir kupu ini terbang diatas ranjang Jefe, ia pun terbang berputar beberapa kali. Jefe tertawa kecil dengan kedua tangan kecil yang terbungkus kaos tangan hijau berusaha menggapai si binatang cantik ini. Meski berada dalam ranjang kayu berwarna putih yang mirip jeruji besi penjara. Jefe tetap senang dan tak sanggup untuk meninggalkan tempat tidur yang agak miring karena diganjal dengan kertas yang dilipat disebelah kaki kanan ranjang. Mata ini tertuju pada kupu yang menghisap bau harum dari baby oil yang seperti wewangian bunga, ia pun turun untuk hinggap di hidung mancung Jefe beberapa saat. Seketika Jefe mendengarkan tangisan kerasnya pada Bunda, mungkin ia tak lagi suka dengan kupu kecil yang mencoba hinggap bahkan mencium hidungnya. Dengan kerasnya tangisan Jefe membuat burung kecil yang tadinya hinggap di dahan dan berkicau terbang menjauh karena mungkin kaget. Bunda yang berada di luar segera berlari ke dalam melihat keaadaan Jefe tanpa mematikan keran terlebih dahulu, air pun senantiasa tetap keluar dari selang hingga sedikit membanjiri tanah yang dipenuhi rumput yang menghijau sampai sampai membuat sedikit genangan karena terlalu lama ditinggal Bunda. Bunda pun dengan langkah yang terbata karena mengenakan rok kotak kotak segera menggendong Jefe dengan kasih saying, tangisan Jefe pun mendadak berhenti seperti ada tombol off untuk menanggis yang dipencet oleh Bunda, ya itulah Bunda. Sosok malaikat bagi Jefe. Bunda yang selalu menjaga dan menyayangi Jefe. Bunda Bunda dan Bunda mungkin itulah bunyi tangisan Jefe yang apabila ditranslatekan dari bahasa bayi menjadi bahasa kita sehari hari.
Derap langkah beradu semakin cepat dan dipercepat oleh waktu yang terbatas. Pintu yang tak begitu lama terbuka membuat mereka harus cepat memasuki besi tua yang akan segera berjalan. Tak sampai detik ke tiga ratus, sebanyak roda dibawah beradu dengan lintasan milik besi tua berwarna tanpa tambalan itu pun mulai menggelinding di jalurnya menuju tempat lain. Bunda berdiri, dengan selendang batik yang warnanya sudah sedikit luntur. Berdiri di dekat tempat duduk yang sudah penuh dengan orang orang yang akan pergi entah kemana. Aku, Jefe masih berada dalam pelukan Bundaku tersayang, walau kakiku agak sedikit terjepit oleh selendang, tetap nyaman rasanya, hangat, dan apabila mengingatnya ingin aku berada lagi di tempat itu dalam kehangatan yang sama bersama orang yang sama pula, Bunda. Aku pun terkadang merasa kurang ajar dengan Bunda, begitu pula dengan kalian mungkin, bagaimana tidak, saat Bunda menggendongku aku seringkali tidur dipangkuannya dengan nyenyak, tak peduli kerepotan apapun yang sedang Bunda hadapi, jika diturunkan ke ranjang air mata rengekan ini pasti akan langsung aku jatuhkan. Bahkan terkadang aku pipis di pangkuaannya juga, tidakkah kalian ingat masa itu juga? Oh ya atau kadang saat aku dimandikan, justru aku yang ikut serta memandikan Bunda dengan ayunan tangan kecilku di bak plastic warna biru sehingga seringkali membasahi blus kesayangan Bunda. Bila saat itu aku sudah tau tatakrama seperti yang kau ajarkan sekarang, mungkin saat itu juga aku akan langsung minta maaf padamu Bunda.
“Bun, kita mau kemana?” tanyaku sebagai seorang bayi dengan bahasa tangisan, akupun menguap merasakan kantuk tak tertahankan, Bunda masih menimangku smbil senantiasa berdiri. Padahal, jarum pendek dan panjang di stasiun Tugu ini baru menunjukkan angka kembar satu, sedangkan tanggal menunjukkan kembar dua bulan terakhir. Tapi bagiku ini seperti sudah waktunya kembali ke dunia mimpi. Lonceng sudah berbunyi, tak lama lagi kereta yang ditunggu Bunda datang, ia dengan koper kecil bertuliskan merk polo tiruan dari brand terkenal perlahan menyiapkan kedatangan kereta jurusan Jakarta. Tutup botol susuku jatuh dilantai, tepat dibawah kursi tempat Bunda menunggu tadi, di lantai yang sedikit berdebu aku rasa, Bunda pun jongkok namun ia takut membuatku yang sudah tertidur lelap bangun. Di dekat kursi yang terbuat dari besi yang bercat putih namun beberapa bagiannya sudah luntur dan sedikit berkarat. Ketika akan diambil dengan tangan tak mungkin sampai, tutup itu menggelinding terlalu kedalam, Bunda juga kurasa tak enak dengan orang orang yang duduk di atasnya. Bunda, ingin ku bisikkan kalau aku tak butuh tutup itu, aku hanya butuh engkau Bunda, lagipula, air asi darimu jauh lebih nikmat, engkau tak mau buatku bangun bila kau jongkok dan mengambilnya, kalau saja ada ayah disini ia pasti akan ambilkan tutup itu untukku Bunda. Kereta sudah sedari tadi juga sudah siap di tempatnya. Kepulan asap dari cerobong kepala kereta sudah menghitam, pedagang asongan sudah berduyun duyun untuk turun. Ia menunggu kita, Bunda. Ayo lekas tinggalkan tutup itu dan kita berangkat temui sosok orang yang engkau sebut ‘mas’ Bunda. Tapi, diambillah sebilah gagang sapu rusak di lantai yang sedikit mengotori tangan Bunda, ia lantas sedikit merunduk dan berhasil mengambil tutup itu untukku. Namun aku terbangun, kepalaku lagi lagi terjepit oleh perut Bundaku sendiri, aku menangis tanpa mau henti di tempat umum itu. Kalau saja aku tau kerepotanmu saat itu bund, aku takkan menangis, sayangnya kata malaikat dulu tugasku saat jadi bayi hanyalah menangis saat aku tak nyaman. Maafkan aku Bunda.
Peluit dari penjaga kereta sudah berbunyi, Bunda lekas cepat cepat mengambil koper dan ditariknya sambil membawaku yang masih menangis tersedu, ia langkahkaan kakinya ke dalam kereta sambil tengok kanan kiri mencari tempat duduk yang tertera di kertas tiket “BC-23”tanpa lupa mengelus sambil menutup mataku hingga aku tenang dengan tangan kirinya, dan aku mulai berhenti menangis saat Bunda telah temukan bangku yang dimaksud dan kemudiaan duduk. Diayunkanlah aku perlahan hingga buatku tertawa kecil tanpa gigi dan buatku tertidur lagi. Sebelum ku pejamkan mata mungilku, kulihat Bunda sedikit berlinang air mata, entah apa yang ia pikirkan, namun yang pasti hal itu buat Bundaku bersedih. Namun aku tak tahu kelanjutannya apakah Bunda meneteskan air mata atau tidak, kelopak mataku sudah terlalu berat untuk terjaga dan harus menutup. Bunda bersabarlah, kita akan segera bertemu ayah.
Masih teringat jelas olehku, meski aku bocah berumur lima tahun. Saat istirahat, teman teman mengejekku. “Nggak punya nyokap . .gak punya Bunda . . .gak punya mama. . .” ucap salah satu dari mereka seperti nyanyian dendam di telingaku, mereka bertiga mengerubungiku seperti lalat sambil bertepuk tangan senang. Aku duduk memandang dengan mata kosong, aku mulai naik ke komidi putar di sekolah kanak kanak itu sambil memutar perlahan poros yang berwarna warni. Saat itu matahari sudah bisa memanaskan bayi unta, saatnya pulang bagi kami anak TK, saat dikala teman temanku dijemput untuk diantar pulang oleh mama mereka, ada temanku saat itu yang tertawa riang ketika melihat mamanya, ia langsung berlari ke mamanya minta gendong, mamanya pun membalasnya dengan ciuman kasih saying di dahi dan kedua pipinya. Andai saja Bunda masih disini, aku pasti menjadi orang paling bahagia di dunia. Mainan yang kududuki ini pun berhenti ketika telah habis waktunya, sekolah kecil di pinggiran kota Jakarta ini mulai kosong dan ditinggalkan. Hanya seorang ibu guru muda Jenny, yang masih sibuk memasukkan kunci pintu kelas ke liangnya, namun belum bisa ditarik entah kenapa. Sedikit sulit tampaknya, namun dengan sedikit mendorong kedalam kunci itu justru berhasil dilepaskan dari sarangnya. Ia pun berputar badan, berjalan menghampiriku dan tangannya hinggap di pundakku seraya berkata “Jefe, belum dijemput kamu sayang?”.Kata katanya kagetkan lamunanku, jawaban gelengan kepala kurasa cukup membuatnya tahu apa maksudku. Ibu Jenny pun menemaniku duduk di kursi komidi putar, walau tampak aneh ia tetap guru yang baik dan paling mengerti aku. “Rumahmu dimana Jefe?” Tanya Ibu Jenny ramah padaku. “Emm,.di Depok Timur Jalan Anyer nomor 23 bu..” jawabku sedikit terbata karena sambil mengingat alamat yang tertera di kartu nama ayahku. “Oh disana ya,.Jefe, ibu kamu memangnya bekerja dimana?” pertanyaan itu membuatku terdiam cukup lama, aku mencoba mengingat memoriku saat itu.
Putih, ruangan tanpa benda apapun dan tanpa siapapun, hanya aku seorang diri. Aku bayi Jefe saai itu, merangkak kesana kesini, tak tahu dimana. Menangis? Ya tentu, tapi tak ada seorang pun disini. Ini mimpi atau kenyataan aku juga tak tahu. Yang jelas saat itu aku mendengar suara sirine ambulance, ingatanku terakhir hanya pada saat aku memejamkan mata ketika Bunda hampir menangis, tapi saat itu aku yakin warnanya gelap, dan aku tertidur walau masih selalu mendengar suara pedangang asongan menawarkan kipas,dan saat itu Bunda membeli satu. Sedikit kurasakan angin dari kipas itu mengenai tubuhku, kereta ekonomi tanpa AC itu membuatku gerah dan berkeringat. Suasana mendung karena akan hujan membuat rasa gerah yang luar biasa bagiku. Selain itu pedangang kipas, suara parau dari mas mas penjual “ikan ayam” juga masuk ke telingaku, aku sedikit bingung saat itu, orang itu jualan ikan atau ayam? Entahlah sebagai seorang bayi aku belum bisa menjawab pertanyaan itu, yang ku tahu hanyalah susu Bunda dan susu botol bergambarkan mickey mouse. Oh ya, saat di kereta itu aku masih mendengar nyanyian Bunda, ia menyanyikan lagu nina bobo’ yang untuk baris berikutnya Bunda iseng mengganti nina dengan Jefe. Hatiku damai saat itu, apalagi dalam perjalanan Jogja Jakarta itu aku masih berada dalam selimut dari selendang batik, serta kehangatan dan kasih sayang Bunda. Hujan cukup deras mengiringi kami menuju kota Batavia, hujan itu membuat jendela tempat Bunda bersender mengucurkan air, lengan baju kanan Bunda sedikit basah, namun ia tetap menjagaku agar tetap kering dan hangat. Air air itu menabrak jendela hinga seperti serbuan peluru air di telingaku. Bunda mungkin sedikit kedinginan, ia memelukku lebih erat. Ada setetes air yang jatuh ke dahiku, tapi aku tak tahu, apakah itu tetesan air hujan atau tetesan air mata Bunda yang tidak ku ketahui sebabnya. Ku rasakan salah satu tangan Bunda melepasku, sepertinya tangan itu ia gunakan untuk menyeka air matanya. Bunda, engkau mengapa menangis lagi? Aku sayang padamu Bunda, tapi aku tak bisa berbuat apapun untukmu, aku merasa ini saat damai dan terindah dalam hidupku. Tidur di pangkuan Bunda, mendengar nina bobo Bunda, air susu Bunda, tapi aku merasa pelukanmu kali ini berbeda, engkau seperti tak mau lepaskan aku, aku sesak Bunda, nafasku terhenti. Aku terbangun dan menangis, entah mengapa saat saat damai itu buatku sedih, lima enam mata penumpang yang lain tertuju ke arahku yang menangis, Bunda seperti punya masalah yang berat hingga ia juga masih meneteskan air mata. Aku menangis lebih dari sepuluh menit tak henti, walau Bunda sudah kembali menimangku dan memposisikan aku senyaman mungkin, tapi aku tetap menangis dan merasa tak mau pisah dari Bunda.
Angin sedikit berhembus pelan, kendaraan pun masih bergantian berlalu lalang di jalan Yos Sudarso depan TK tua ini. Aku sedikit mengambil nafas, mencoba tenang sebelum menjawab pertanyaan dari Ibu Jenny. “Bu,Bun,…Bunda sudah bekerja di surga bu, dia bekerja menjagaku dengan kedamaiannya.” Jawabku sambil tertunduk lesu dan meneteskan air mata. Ibu Jenny segera meraihku dan dibenamkan aku dalam pelukannya. “Maafkan ibu ya nak, mengingatkanmu dengan Bunda” jawabnya mencoba menghibur hatiku. Komidi itu kembali berhenti, porosnya yang berkarat dan berderit seperti bunyi rem saat itu. Suasana itu buatku kembali mengingatkanku pada kejadian dasyat malam itu. Kejadian yang hanya aku rasakan sebagai seorang bayi, selamat dari Malaikat Maut yang mengambil Bundaku terlebih dahulu sebelum aku mendapatkan banyak kebahagiaan daarinya.
Tepat dua jam sebelum kami tiba di Jakarta, bunyi roda kereta sedikit berbeda, klakson kereta itu berbunyi keras dan tanpa henti, klakson itu seperti memekik dalam keheningan malam yang hujan dan sunyi. Hey, aku mendengar dua bunyi klakson kereta yang berbeda, akankah ini akan jadi mimpi buruk, semoga saja tidak, aku masih ingin bersama Bunda. Rem kereta tiba tiba berguna, roda roda besi itu seperti dipaksakan berhenti oleh besi yang lain, hingga kurasa terdapat percikan api, panas, bahkan menimbulkan suara yang sama sekali tak enak di dengar di telinga. Tubuhku dan Bunda terpental maju menubruk kursi depan, aku hampir saja jatuh ke lantai. Namun, belum cukup sampai disana, ternyata bunyi itu berasal dari dua kereta satu jalur rel yang saling berlawanan arah. Seketika itu gerbong kami terguling, aku tak ingat apa apa lagi, aku terhempas dari pelukan Bunda yang berhasil melindungiku dari meja besi kecil, tepatnya dibawah jendela kereta, tepat depan kursi tempat kami duduk. Hanya suara ambulan yang aku ingat setelah kejadian itu.
Mataku perlahan terbuka, silau cahaya putih dari lampu rumah sakit masuk mencapai retinaku. Sesosok bayangan pria berdiri di depanku, masih kabur memang tapi aku tahu siapa itu, itulah adalah ayahku. Tapi, tunggu dulu, mana Bunda? Aku kembali menangis keras merengek meminta seorang Bunda. Hingga pada akhirnya aku tahu, Bunda mendahuluiku mandi di sungai susu di surga, dia telah berangkat dengan kereta lain saat kereta kami bertabrakan malam itu. Takdir yang harus aku terima memang pahit, terlalu sebentar bagiku mengenal sosok seorang Bunda. Terlalu singkat untuk sebuah perjalanan Jogja Jakarta. Aku mau perjalanan yang lebih panjang. Kini aku telah dewasa, hidup tanpa kasih saying seorang Bunda. Yang dulu hanya benar benar sesaat mendapatkan hadiah terbaik bernama Bunda. Yah, bukan hidup ini memang sebuah perjalanan panjang. Tak cukup tidur dipelukan Bunda seterusnya, aku yang hidup kini sudah bisa menerima keadaan. Selamat jalan Bunda, pekerjaanmu kini sudah usai. Aku sudah berkeluarga dan punya Bunda bagi anak anakku. Sekali lagi terimaksih Bunda, walau hanya sesaat Jogja Jakarta, kau berikat semangatmu untukku. Jangan menamgis lagi ya Bunda.
***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s