SINETRON TETAP SEBAGAI INSTRUMEN EDUKASI DAN HIBURAN #BRIDINGCOURSE06

“ Untuk mengurangi dampak negatif TV, menjelaskan harus memperbanyak kegiatan yang bermanfaat sehingga tidak memiliki banyak waktu luang, memilih acara TV yang bermutu, bentuk kelompok teman sebaya yang berorientasi positif, banyak berdiskusi dengan orang dewasa yang berwawasan “ Riana Mashar

Tulisan Windraty berjudul “Sinetron Pembodohan Masyarakat” pada surat pembaca Harian Kompas 13/11/2004 silam dan beberapa tulisan serupa oleh banyak penulis di media lain, sungguh menggelitik. Sinetron-sinetron yang ditayangkan lewat media televisi saat ini, tidak bermutu karena tidak berbau akademik dan bukan merupakan realita yang ada di masyarakat. Kekasaran, pelecehan seksual, hedonisme, materialistik, yang tidak ada relevansinya dengan upaya mencerdaskan anak bangsa serta meningkatkan mental masyarakat. (Kompasiana, 2012). Pernyataan tersebut merupakan sebuah dislike dari pihak masyarakat tentang essensi dari sinetron. Dua hal pokok yang bisa di kerucutkan dari tulisan tersebut, yakni pandangan masyarakat tentang sinetron, yang pertama adalah tidak mendidik dan yang kedua adalah tidak masuk logika.

            Tidak mendidik, adalah sebuah statement yang tidak perlu disalahkan, akan tetapi perlu diklarifikasi. Bentuk pendidikan yang dimaksudkan adalah sebuah ajaran tentang kesalahan. Sinetron dengan segala sifatnya yang fiksi,dapat menjadi sebuah ajang pendidikan yang layak untuk dianalisis. Untuk usia SMA, mereka butuh sebuah identitas dan pembelajaran. Identitas ini dapat dipelajaari melalui karakter dari msing masing tokoh sinetron.

Mampu menentukan baik dan buruk merupakan cirri manusia dewasa. Dengan film ini, remaja diajak berfikir kritis untuk mampu melakukan filter pada tayangan yang layak ditonton. Tanpa hal buruk sebuah ilmu tidak akan di dapatkan. Sifat buruk dari sudut pandang masyarakat itulah yang sebenarnya mampu mendidik masyarakat untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk. Disini yang salah bukanlah apa isi dari sinetron itu sendiri akan tetapi, kesalahan itu berasal dari pengawasan orang tua untuk membiarkan anaknya menonton sendiri sebuah acara sinetron yang mungkin bersifat metropolis yang memungkinkan usia anak yang melihatnya cenderung meniru habit dalam sinetron di televisi. Butuh pemahaman dari orang tua untuk bersama membahas sinetron tersebut dengan sederhana. Mengingat sinetron adalah tayangan keluarga, harusnya siaran ini mampu dimanfaatkan untuk menjalin hubungan yang lebih erat anatar keluarga.

            Tidak masuk logika, sebuah pernyataan yang nampaknya perlu diperjelas. Pada dasarnya sinetron berasal dari pengembangan film fiksi. Logika dari sinetron tersebut tetap dapat dirasakan pemirsa. Bukankah sinetron didasarkan pada kehidupan sehari hari yang dibumbui dengan segala sesuatu sebagai eyecathing. Selain pada dasarnya memang sinetron berorientasi pada fiksi, namun dengan logika yang berbeda dan out of the box dapat membuat film tersebut dinilai kreatif. Kreatifitas dari sinetron baru bisa dirasakan setelah alur dari film tersebut benar benar selesai. Sehingga tidak sepantasnya apabila menilai sebuah hasil karya hanya dari sebuah sampulnya saja.

Sinetron juga dipengaruhi oleh strategi yang benar. Strategi tersebut meliputi jam tayang dan teks di akhir film. Jam tayang yang dimaksud adalah jam tayang yang memang difungsikan untuk usia. Sinetron yang ditayangkan pada pukul 10 pagi adalah salah satu saat yang dinilai tepat dengan mempertimbangkan bahwa kaum hawa telah selesai dengan tugas rumahnya dan diberikan hiburan berupa sinetron sebagai pelepas lelah. Untuk jam waktu malam, sinetron difungsikan sebagai tayangan bersama keluarga. Fungsi hiburan inilah yang seharusnya mampu dikuliti untuk diambil inti sari pelajaran berharga bersama pengarahan dari orang tua. Sebuah teks sederhana tentang permintaan maaf juga merupakan etika dalam sebuah film fiksi tanpa maksud untuk merendahkan atau menyinggung orang lain. Sudah benar benar ditekankan bahwa film ini bersifat fiksi atau tidak nyata dan hanya sebatas hiburan semata.

Jadi, sebuah kesimpulan di dapatkan bahwasanya televisi dalam artian program sinetron masih mampu menyelenggarakan fungsinya sebagai sarana edukasi dan hiburan yang bersifat universal bagi segala kalangan. Sebuah peran yang harus didukung dengan komitmen banyak pihak untuk mampu menyalankan perannya tersebut, baik dari keluarga, individu itu sendiri, bahkan keikutsertaan pemerintah dalam hal monitoring media yang digunakan masyarakat untuk belajar.

 

Daftar Pustaka

http://876fm.com/ummgl.ac.id//index.php/content/view/127/1/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s