AKURASI INFORMASI KICAU BURUNG BIRU DIPERTANYAKAN #BRIDGING COURSE 08

Hari ini siapa orang yang tidak punya twiiter. Twitter didirikan pada bulan Maret 2006 oleh perusahaan rintisan Obvious Corp dan dilancarkan pada bulan Juli di tahun yang sama. Pendiri Twitter ada 3 orang, yaitu Jack Dorsey, Biz Stone, dan Evan Williams.1 Ya, sebuah social media baru pesaing facebook ini mulai merambah segala usia dan kalangan. Di jurusan Ilmu Komunikasi UGM angkatan 2012 tidak ditemukan mahasiswa dan mahasiswi yang tidak mempunyai account twitter. Berdasarkan data dari http://www.twittercounter.com pada Tahun 2009, tercatat ada sekitar 4 juta pengguna twitter di seluruh dunia. Penggunaan twitter di negara satu dengan negara lainnya berbeda. Khususnya di Indonesia, twitter di dominasi oleh kaum muda. Namun sejauh mana peran twitter tersebut mampu mempengaruhi kehidupan manusia penggunanya? Apakah ‘tweet’ yang di posting tersebut bermanfaat atau justru mengganggu pengguna twitter lainnya? Media perlu melakukan usaha yang lebih cerdas dengan melakukan kombinasi cantik antara mencari kepentingan keuntungan dan pencerdasan masyarakat.2 Bentuk promosi yang digunakan melalui media jejaring social ‘burung biru’ atau twitter secara tidak langsung mengambil alih privasi sebuah account dengan secara bebas dan acak dengan menggunakan tag untuk setiap produk komersil atau informasi sampah yang ditawarkan tanpa meminta si pengguna melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Pencarian keuntungan dengan cara tag ini hanya satu dari sekian catatan roaming dari twitter. Fungsi media yang secara tidak langsung harus mencerdaskan masyakat juga kurang berfungsi di social media yang satu ini. Hanya dengan berbekalkan kemampuan menulis karakter 140 kata saja belum mampu mewakili informasi konkrit yang mampu dipertanggung jawabkan dan belum lagi tingkat akurasi dari berita tersebut. Tingkat akurasi patut dipertanyakan karena media ini merupakan media bebas dimana setiap orang mau dan bisa menyebarkan informasi apapun yang belum tentu terbukti kebenarannya. Dalam penggunaan social media twitter dibutuhkan modal kejujuran dari seluruh lapisan, baik pengguna maupun provider informasi. Informasi yang dapat meluas dengan cepat dan faktual mampu mengalahkan media massa cetak pada perkembangannya. Masalah inti dalam kehadiran media sebagai pembawa informasi tentunya kembali berpulang pada proses penyusunan dan penyampaian informasi itu kepada masyarakat. Sepanjang penerapan standar professional junalistik masih tertatih-tatih, masalah ini akan tetap tinggal dan bisa membahayakan masyarakat yang ‘menghirup’ informasinya.3 Mengingat sebuah standing statement dari Prajarto di atas, media di Indonesia sendiri masih memiliki masalah dengan profesionalitas jurnalisme yang juga masih dipertanyakan, lantas bagaimana masyarakat mampu melakukan filter yang baik terhadap informasi ‘pokok’ yang mereka butuhkan. Dituntut peran edukasi yang cukup untuk dapat melakukan hal tersebut dengan sempurna. Peran twitter tersebut mampu mempengaruhi kehidupan manusia penggunanya saat pengguna mampu melakukan filter atas informasi yang tersedia di “mikro blog” ini, hanya dengan penyaringan informasi dengan benar twitter mampu dipergunakan oleh user sesuai fungsi dan tidak merugikan orang lain. Lantas ‘tweet’ yang di posting tersebut dapat bermanfaat apabila mendapat response berupa re-tweet atau favorite. Prinsip tersebut sesuai dengan model komunikasi Lasswell (1948) “who says what in which channel to whom with what effect”.4 Effek yang dimaksud disini adalah response dari reader tweet yang telah di post. Sebuah wujud eksistensi di dunia maya saat tweet tersebut di respon karena dianggap memberi informasi berguna bagi orang lain. Walaupun twitter unggul dalam dimensi waktu yang relative cepat, kebenaran dari berita di twitter masih belum menemui titik terang tentang objektivitasnya. Sehingga dengan akurasi isi dari informasi yang ada dinilai belum objektif, user perlu memilih informasi yang benar, sesuai referensi lain yang ditawarkan melalui media lainnya.

 

1. Hesty. 2010. Kelebihan dan Kekurangan Twitter. http://lovestoryofhesty.blogspot.com/2010/03/kelebihan-dan-kekurangan-twitter.html Di unduh 12 Oktober 2012 jam 17:28

2. Wisnu Martha Adipura. 2006. Menyoal Komunikasi Memberdayakan Masyarakat.Yogyakarta. Fisipol UGM.hal 10

3. Nunung Prajarto. 2006. Menyoal Komunikasi Memberdayakan Masyarakat.Yogyakarta. Fisipol UGM.hal xii

4. Deddy Mulyana.2010. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung. Remaja Rosdakarya. Hal 147

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s