KANIBALISME NAMA

 

            Sasongko, sebuah nama sebuah cerita. Banyak orang Jawa yang hanya memiliki nama tunggal, misalnya presiden Indonesia pertama dan kedua, Soekarno dan Soeharto. Begitu pula dengan namaku, Sasongko. Dimana kata sasangko ini adalah merupakan nama dari KGPH Purboyo dari Karaton Kartosuro. Nama yang cukup singkat dan padat namun adalah pemberian dari orang tua. Nama yang terdengar asing karena jarang digunakan dan pendek. Disisi lain bisa juga berfungsi agar saat ujian lebih cepat dalam membubuhkan namanya di lembar jawab, namun ternyata ada sebuah cerita yang hinggap dan melatar belakangi dipakainya nama ini. Dalam kamus arti nama bahasa Jawa, Sasangka artinya rembulan.  Namun apa sebenarnya arti nama rembulan ini? Bukan hal ini yang akan penulis bahas pada kesempatan kali ini, akan tetapi mengapa nama dengan ciri khas Jawa ini sulit ditemukan sekarang.

Nama patronimik adalah nama depan ayah yang digunakan oleh anaknya. Contohnya adalah nama presiden Indonesia ke-4, Abdurrahman Wahid, yang diturunkan dari Wahid Hasyim, ayahnya, yang diturunkan dari Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama. Demikian pula dengan nama presiden Indonesia ke-5, Megawati Sukarnoputri, yang diturunkan dari nama ayahnya, Soekarno, presiden Indonesia yang pertama. Walaupun orang Jawa menganut sistem patrilineal, namun bukan menjadi kebiasaan orang Jawa untuk menggunakan nama keluarga, kecuali keturunan orang Jawa di Suriname. Sehingga dalam hal ini nama Sasongko adalah nama tunggal yang tidak memperdulikan asal usul orang tua untuk ikut serta dimasukkan dalam nama anak.

Kanibal bukan pemakan mayat atau sejenisnya, disini kanibal penulis persepsikan sebagai “pemakan” nama.  Nama-nama jawa kehilangan identitasnya dan menjadi korban kanibalisme ini. Apakah rasa kebanggaan atas nama suku yang tua ini akan tergerogoti oleh nama-nama asing. Bisa dikatakan jarang pada periode abad ke-21 orang tua di Jawa menamai putra atau putri mereka dengan nama wayang, nama yang berdasarkan waktu lahir, maupun nama yang berakhiran “o”, “man”, “yem”, maupun “i”. Sebagai contoh nama wayang ada Arjuna, Nakula, Sadewa, dan kawan kawannya. Nama yang berasal dari waktu lahir contohnya Poniman, Wagiman, Paiman, Paijo, dan masih banyak lainnya. Nama adalah sebuah identitas dari latar belakang budaya. Dewasa ini nama yang cenderung kebarat-baratan lebih popular. Lantas 20 tahun lagi masihkah ada nama khas yang masih menunjukkan identitasnya sebagai seorang Jawa?

Budaya Jawa kaya akan makna, setiap simbol dan setiap nama punya makna filosofis tersendiri dan punya arti historis maupun harapan dengan analogi tertentu. Adopsi filosofi ini menunjukkan kebudayaan jawa adalah kebudayaan yang tinggi dan perlu dilestarikan. Melalui sebuah nama, suku Jawa menandai anak anaknya dengan urutan seperti eka yang berarti satu, dwi yang berarti dua, tri yang berarti tiga, sad yang berarti empat, panca yang berarti lima, dan seterusnya. Nama-nama tersebut juga merupakan sebuah bukti akulturasi budaya, tidak jarang pula bahwa nama di Jawa terintegrasi dengan bahasa sansekerta. Jadi akankah karakter khas dari suku Jawa ini hilang begitu saja? Jadi siapakah kanibal nama Jawa ini sesungguhnya? Kalau bukan suku Jawa yang melestarikan lantas siapa lagi?

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org/wiki/Nama_Jawa diakses 22:11 25 Nop. 12

www.kratonsurakarta.com/about/index_id.shtml diakses 22:14 25 Nop. 12

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s